Patut Dicoba, Daging Analog Produk Olahan dari Pabrik Jamur

Patut Dicoba, Daging Analog dari Olahan Protein yang Penuh Citarasa

Jangan ngaku pecinta kuliner bila Anda belum pernah merasakan unik sekaligus enaknya daging analog. Panganan ini terbuat dari olahan protein kedelai yang diproses secara higienis dengan memanfaatkan teknologi terkini dan merupakan salah satu produk olahan dari pabrik jamur. Menu ini bisa jadi opsi bagi Anda yang tidak bisa memakan daging, atau bagi Anda yang memutuskan menjadi vegetarian atau vegan.

Pasalnya kandungan karbohidrat dan kandungan protein yang tinggi membuat siapapun bisa kenyang hanya dengan memakan cemilan ini. Anda juga bisa mengontrol jadwal diet dengan mengandalkan menu ala daging analog. Dimana rasa dan tekstur olahannya tetap berterima di lidah anda.

Apa Ciri Khas Daging Analog?

Setiap makanan memiliki ciri khas tersendiri. Begitu pula dengan olahan dari kedelai produksi dari pabrik jamur yang menyerupai daging ini. Peluang bisnis yang menggiurkan membuat siapapun berlomba membuat jiplakan daging analog. Untuk itu berikut ciri khas daging analog yang harus diketahui.

1. Serat Mirip Daging

Serat mirip daging diperoleh secara alami karena teksturnya yang benar-benar otentik seperti daging sungguhan. Serat mirip daging ini bisa didapatkan lewat jenis pengolahan apapun. Seperti pada Rodeomushroom salah satu merk dari Pabrik Jamur yang menyediakan varian daging analog dengan tekstur berserat layaknya daging asli. Nikmati sensasi memakanolahan kedelai ala memakan daging di satu waktu yang sama.

 

2. Warna Pucat Seperti Daging Matang

Beralih ke indera pengelihatan, bila mengamati  warna daging analog yang asli, akan terlihat pucat seperti warna daging matang. Bentuknya yang kering membuatnya lebih mudah diamati, bahwa produk yang akan anda konsumsi merupakan daging analog asli.

Warna ini muncul karena proses pengeringan atau penguapan yang terjadi pada protein kedelai yang dilakukan oleh pabrik jamur. Karena pada dasarnya setiap sayuran atau buah yang mengalami kontak dengan oksigen dalam waktu yang cukup lama akan mengalami oksidasi dan pada akhirnya warna asli dari sayuran akan memudar.

 

3. Tekstur 97% Mirip Daging

Tidak bisa membedakan serat maupun warnanya? Tenang, Anda bisa membedakannya dengan cara memakannya secara langsung. Daging analog asli memiliki tekstur 97% mirip daging yang sudah terkena panas.

Dengan cara ini kebanyakan konsumen akan percaya bahwa produk yang dimakannya merupakan daging analog asli. Anda pecinta daging tentu akan dengan sangat mudah menebak seberapa mirip tekstur daging analog dengan daging asli.

 

4. Tidak Berbau

Kelebihan daging analog dibandingkan dengan daging asli adalah tidak memiliki bau yang menyengat. Terlebih bau yang menyerupai aroma daging yang bagi sebagian orang terasa menusuk hidung dan berbau tajam. Proses penguapan yang dilakukan oleh pabrik jamur pada daging analog mengurangi aroma khas kedelai dan aroma kurang sedap lainnya.

Bagi kebanyakan orang yang tidak menyukai aroma daging yang kuat bisa beralih memakan daging analog untuk menghindari aroma khas daging yang tajam.

 

5. Tidak Meninggalkan Rasa Kuat di Lidah atau Tenggorokan

Tidak kalah penting, daging analog tidak meninggalkan rasa yang mengganjal kuat di lidah maupun di tenggorokan. Berbeda dengan olahan daging asli yang biasanya meninggalkan rasa yang pekat dan sulit dihilangkan dari lidah dan tenggorokan.

Rasa yang ringan inilah yang selanjutnya banyak disukai oleh konsumen. Terlebih tekstur yang mirip namun tidak meninggalkan rasa “lengket” ini banyak digemari oleh konsumen yang suka dengan olahan daging namun tak menyukai karakter daging asli.

Selain pabrik jamur, tak banyak perusahaan yang menawarkan solusi produk olahan berbahan dasar protein kedelai menjadi daging analog. Anda sebagai pencinta kuliner sehat, wajib merasakan bagaimana unik dan enaknya panganan sehat ini. Belilah daging analog di toko terdekat dan kunjungi web rodeomushroom.com untuk info menarik lain. Selain itu daging analog juga bisa didapat secara online di Cip Official Store TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *